Maghrib di Sudirman

Maghrib 18.20 di Stasiun Sudirman, 5 Oktober 2013.
Seorang perempuan berjalan gontai
Namun di dalam hatinya ia tahu, 
Takdir Tuhan telah terikat bagai rantai

Dua orang lelaki tertawa lepas
Malam itu malam minggu
Ikuti ke mana angin pergi, mereka bebas

Kereta melaju dengan cepat
Membawa ibu penjual nasi, lelaki eksekutif muda, pemuda kasmaran
Kembali ke peraduan; waktu terasa lambat

Di tengah manusia Jakarta, 
Perempuan melihat seorang lelaki,
Berbaju putih, tinggi tak semampai
Memanggul tas besar, membaca buku "Rahasia Besar"

Di tengah orang-orang yang berdiri,
Perempuan terdesak masuk ke dalam barisan 
Tepat di sebelah lelaki, 
Berdua mereka beradu pandang, sedetik, dua detik
Lalu kereta tiba-tiba berhenti.

Pasar Minggu ternyata, 
Manusia kembali saling dorong,
Perempuan tetap berdiri di samping lelaki
Menanti seucap kata, atau seulas senyum

Diam-diam perempuan curi pandang
Lelaki tetap tak peduli, ia bagai tuli
Suara manusia tak bergeming
Hanya ada dia dan buku hening

Pondok Cina, stasiun berikut
Perempuan meringsek keluar dan beringsut
Dipandangnya lelaki sekali lagi
Ternyata tetap ia berdiri

Perempuan kembali berjalan gontai.
Menanti esok hari di kantor,
Untuk sebuah sapaan, 
"Kemarin kita bertemu di Sudirman?"

P.S : Tempat dan figur manusia hanya rekaan semata :)

Comments

petikdua said…
Jika memang imajinasi, mungkin tidak perlu penjelas tempat dan pelaku. Biarkan kami yang membaca "merasa" di akhir tulisan.

:) Dibalik itu, saya suka irama tulisannya.