Happiness Inside

Image source: www.goodreads.com
"Happiness is always an inside job". Begitu kira-kira intisari yang ingin disampaikan Gobind Vashdev dalam buku ini. Dan berbeda dengan buku-buku motivasi lainnya yang terkadang terjebak "menggurui" pembacanya, penuturan Gobind yang sederhana mampu merefleksikan apa yang saya alami dan rasakan belakangan ini.

Stay hungry, stay foolish. Dalam sebuah bagian bukunya, Gobind memberikan analogi gelas kosong dan botol yang berisi air. Untuk air dapat berpindah dari botol ke dalam gelas, tentu gelas haruslah kosong...atau memiliki ruang untuk diisi. Dalam prosesnya juga, seringkali gelas harus berada di bawah botol yang berisi air itu, agar ia dapat terisi. Analogi yang cukup sederhana menjelaskan bahwa manusia seharusnya tidak puas untuk belajar, layaknya keingintahuan seorang anak kecil. Usia terkadang membuat manusia jumawa bahwa mereka telah tahu banyak hal, padahal banyak yang masih harus dipelajari.

Hidup bukanlah perlombaan. Hidup di kota besar dan segala iklim kompetitifnya terkadang membuat kebahagiaan pun menjadi perlombaan. Begitu juga dengan posting liburan, belanja dan makan enak di media sosial yang terkadang menjadi kompetisi "kebahagiaan" di dunia maya. Namun, hidup sejatinya memang bukan perlombaan atas apa yang didapatkan. Kembali saya teringat dengan kutipan sutradara Angga Sasongko yang saya pinjam di halaman persembahan skripsi dulu "At the end of the journey...life is not about to win something. It's about to define what life is, and remain in the heart of others."

Body, mind, and soul. Tidak seharusnya pakaian bagus dan sepatu cantik selalu jadi prioritas. Terkadang lupa bahwa badan kasar adalah yang pertama ditinggalkan ketika berpulang nanti. Sementara pikiran dan jiwa jarang diisi. Buat saya, ini jadi pengingat untuk membaca, melihat, mendengarkan dan merasakan lebih banyak lagi.

Semua orang adalah guru. Di bagian awal, Gobind menyebutkan bahwa kita sesungguhnya dapat belajar apapun dari orang-orang di sekeliling kita. Sementara itu, pada bagian akhir ia kembali menuturkan bahwa orang yang menyulitkan merupakan berkah yang tak terhingga. Seperti yang sutradara Joko Anwar pernah tuliskan, "Smart people can see defects on people. The wise ones use them as mirrors."

Bravo, Gobind. Semoga karya-karya tulus selanjutnya bisa semakin menginspirasi :)

Comments