Hari Kemenangan dan Halaman Kesimpulan

Dalam satu minggu kemarin, dua hari besar dirayakan. Bagi umat Hindu, hari Rabu tanggal 15 Juli yang lalu adalah hari raya Galungan, sementara kawan-kawan Muslim baru saja merayakan Idul Fitri Jumat dua hari kemudian pada 17 Juli 2015.

Sejak kecil, ketika teman-teman yang berbeda agama menanyakan "Galungan itu hari raya apa?", saya hanya menjawab "Kemenangan Dharma melawan Adharma - kebaikan menang melawan kejahatan.". Memang ada banyak pertanyaan, dalam konteks apa Dharma menang melawan Adharma? Apakah ada semacam perang, lalu kebaikan lantas menang? Artikel singkat dari Ida Pedanda Made Gunung di sini mencerahkan. Bahwa Dharma yang dirayakan itu bukanlah hanya kebaikan yang menjadi kontra hal-hal jahat. Bukan kebaikan yang menjadi lawannya perbuatan buruk mencuri atau merampok. Dharma yang dimaksudkan adalah kebaikan, yang dimulai dari pikiran; kedamaian, kesejahteraan, keamanan dan kebahagiaan. Pikiran-pikiran baik yang menjadi sumber tindakan baik ini kadang sering luput dengan kemarahan bahkan kesombongan diri. Di situlah "pertempuran" Dharma dan Adharma terjadi, yaitu di dalam pikiran manusia itu sendiri. Filosofi yang mungkin hampir sama juga dirayakan lewat Idul Fitri. Ada "kemenangan" setelah menjalani puasa selama waktu satu bulan dan mengalahkan keinginan atau nafsu diri.

Manusia (baca: saya) memang kadang-kadang tidak pernah lepas dari emosi negatif. Mengalami perubahan sedikit, langsung menunjuk ke pihak lain. Padahal, kuasa energi negatif itu pula yang membawa pada emosi, entah dalam bentuk ambisi maupun arogansi terhadap diri sendiri. Padahal mungkin, semua yang terjadi saat ini selalu mengalami rotasi; ada saatnya merasakan laju roda di atas, pasti ada kalanya pula menjalani roda di bawah. Wajar memang ingin membuktikan, ingin lompat-lompat mencari, tapi kadang diri lupa untuk membumi. Membumi untuk menyadari bahwa segala sesuatu harus dimulai dengan pikiran baik, termasuk kerendahan hati. Ibaratnya dalam menulis, mungkin ada kalanya tersesat dalam banyaknya data, namun lupa dengan benang merah "Hasil apa yang ingin disimpulkan?"

Terlambat memang terlambat. Halaman kesimpulan memang telah ditulis dan tercatat rapi. Gumaman "bagaimana jika" akan selalu mengekor penyesalan diri. Namun, segala energi negatif itu harus dikalahkan, terutama dalam momentum dua hari kemenangan ini. Selamat merayakan kemenangan, semoga tidak sering tersesat lagi, tidak tenggelam dalam ambisi atau arogansi diri lagi. Sebab kata orang, hidup itu bukan hanya untuk diri sendiri.

Photo: Pura Lingsar, Lombok, Juli 2015

Comments

a! said…
numpang jejak saja dulu. baca pas bagian tulisan keren ini. :)