Identitas

"I still don't know what I really want until I was 32 years old", begitu ujar Takehisa Maruyama, moderator Diskusi "Generasi Salah Asuhan" oleh Japan Foundation yang saya ikuti tadi. Mr. Take, warganegara Jepang yang sekarang tinggal di Bali, pernah mengira akan menemukan jalan hidupnya melalui menjadi Radio DJ. Penghasilan materi yang kurang yang akhirnya membuat Mr. Take memberanikan diri mengambil kesempatan untuk menjadi web designer, bergelut di bidang IT, hingga sekarang (katanya) menjadi tax consultant.

Saya sangat menikmati diskusi tadi siang yang membahas buku "Generasi Salah Asuhan - Never the Twain" oleh Abdul Muis. Hanafi diceritakan sebagai pemuda Indonesia yang mendapatkan kesempatan belajar keluar negeri, dan sepulangnya di Indonesia, ia menjadi seorang pribadi yang berbeda. Walaupun saya belum membaca bukunya (hanya beberapa potongan cerita Hanafi yang sering dibahas di buku pelajaran SD) dan hanya manggut-manggut tanpa punya satu pertanyaan, namun ada banyak hal-hal; kecil dan besar; yang menarik untuk diamati. Selama beberapa bulan ini saya bergelut dengan diri saya sendiri; melihat orang-orang hebat yang membuat minder, sekaligus melihat mereka yang punya mimpi yang sangat...pure dan tulus.

Mengutip dari diskusi tadi, identitas adalah sebuah konsep yang fluid, bisa terus berubah. Identitas bukan hanya masalah etnisitas; identitas juga soal cita-cita. Melihat atau bekerja dengan orang-orang hebat (menurut saya) tidak seharusnya membuat minder, justru saya merasa diingatkan untuk mencari identitas saya sendiri, warna saya sendiri. Perkara nantinya tidak sehebat mereka itu mungkin masalah belakangan, intinya adalah mencoba menemukan diri dulu. Melihat mereka yang giat bergulat dengan mimpinya juga mengingatkan saya kalau dreams keep you alive, don't be afraid to dream. Walaupun mungkin dalam prosesnya, yang dulu teman ternyata tak sejalan; yang dulu lawan bisa menjadi kawan; atau mungkin nantinya kawan akan menghilang dan kita berjalan sendirian. Everyone deserves to get, have, and achieve their best, right?

Diskusi ditutup dengan kutipan dosen HI favorit, mas Joko Susanto, yang kurang lebih mengatakan bahwa,
"Life is like balls of bullet. It can explode everytime. Yet, don't turn out to be ashes, be the fireworks."

disusul kutipan perwakilan JF,
"Siapa lagi yang bisa menghargai diri Anda, selain Anda sendiri?"

Identitas, bukan masalah siapa yang bisa berada di atas lainnya. Identitas adalah sebuah proses untuk ditemukan, sekaligus menemukan dirinya sendiri.

*ditulis ketika badan meriang dan tidak bisa tidur akibat kopi hitam di akhir diskusi.


Comments